Banaran Winatra


Menurut penelusuran tim pengabdian yang diketuai oleh Dr. Febri Taufiqurrahman, S.Hum., M.Hum.,
awal mula kata Banaran berasal dari nama seorang tokoh yang mempunyai nama asli Mbah Abdul Qohar.
Beliau adalah salah seorang tokoh pendiri atau dalam bahasa Jawa disebut babat alas tanah yang saat ini disebut Banaran.
Kata Banaran sendiri diambil dari sifat kesalehan Mbah Abdul Qohar yang dijuluki “Ki Banar Soleh” yang artinya seseorang yang benar-benar memiliki sifat saleh. Hingga sampai saat ini yang dikenang dan diambil hanya kata “banar” yang diimbuhi dengan “an” sehingga terbentuklah kata “Banaran” yang memiliki arti sebuah harapan supaya selalu ditunjukkan jalan kebenaran.
Makam dari Mbah Abdul Qohar sampai saat ini masih dirawat dengan baik dan terletak di Kelurahan Banaran yang sampai sekarang dikunjungi/ diziarahi oleh masyarakat desa Banaran.
Mbah Abdul Qohar berasal dari Kedu, Jawa Tengah yang merupakan salah satu murid dari Pangeran Diponegoro. Beliau memiliki saudara berjumlah 9 orang yang terdiri dari 8 laki-laki dan 1 perempuan.
Dari ke 9 saudara tersebut mereka berkomitmen untuk berpencar dan menyebar ke daerah Jawa Timur untuk mencari daerah yang aman dan mendirikan sebuah tempat ibadah yang disebut “langgar” yang diambil dari istilah “sanggar” yaitu tempat ibadah atau pemujaan bagi umat agama hindu.
Setiap dibagun “langgar” di sebelahnya pasti di tanam pohon sawo yang memiliki arti sebagai simbol bahwa setiap perjuangan bermula dari bersusah payah dahulu seperti buah sawo yang memiliki rasa buah yang sepah apabia masih belum matang, dan akan manis pada saatnya nanti.
Di kelurahan Banaran, terdapat 3 kuburan yaitu, kuburan etan (timur), tengah (tengah), dan kulon (barat). Mitos yang berkembang di masyarakat, apabila ada warga Banaran yang meninggal dan dimakamkan di salah satu kuburan tersebut, maka 2 kuburan yang lain akan meminta jatah sehingga dalam beberapa hari kemudian akan terjadi setidaknya 3 kematian orang berturut-turut.
Akan tetapi itu hanyalah mitos yang diyakini oleh masyarakat Banaran.

Adapun versi kedua dari awal mula kata Banaran adalah ketika dahulu pada zaman kerajaan Kediri, pada saat permaisuri ratu Kediri melewati sebuah daerah yang diikuti para dayang yang berpakaian dengan mengenakan pakaian yang orang Jawa yang disebut “kemben”. Dari peristiwa tersebut orang-orang yang tinggal di daerah tersebut terkagum-kagum dan mengabadikan nama “kemben” tersebut menjadi “mban” atau “mbanaran” yang saat ini dijadikan sebagai sebuah nama Desa Banaran.

Ada beberapa penyebutan wilayah yang ada di Kelurahan Banaran yang memiliki cerita sejarah sendiri :

1. Tambak Boyo Merupakan penyebutan wilayah di Kelurahan Banaran yang berada di sisi timur Kelurahan tepatnya di RT 25 RW 09. Sejarahnya nama tambak boyo ini diambil dari cerita sejarah bahwa di wilayah tambak boyo ini dahulu banyak ditemukan buaya yang berada di sungai sehingga tempat ini sampai dengan saat ini dikenal masyarakat sebagai Tambak Boyo

2. Karangjati Merupakan penyebutan nama yang berada disebelah timur Makam Tengah awalnya ditempat ini banyak pohon jati. Dalam sejarahnya untuk kepentingan pembukaan lahan baru maka pohon jati yang ada ditebang untuk kemudian dibuka sebagai lahan pertanian/tegal.

3. S.H.Y SHY berlokasi di RT 01, RT 02 dan RT 03, RW.01 dalam sejarahnya kata yang dipercaya warga Kelurahan Banaran peninggalan Penjajahan Belanda dan tidak ada yang mengetahui artinya. Pada perkembangnya di lokasi SHY ini warga sekitar Profil Kelurahan Banaran Kecamatan Pesantren-Kota Kediri 4 membuat sebuah musholla dengan menghubungkan nama S.H.Y kepanjangan dari Shihibul Hidayah.

4. Makam Tengah ( Kuburan Tengah ) Merupakan makam yang dipercaya sebagai tempat pemakaman pendiri Desa Banaran yaitu Ki Banar Sholeh. Merupakan kuburan dari leluhur Banaran atau yang babat alas tanah Banaran yaitu Mbah Abdul Qohar atau nama aliasnya “Ki Banar Shaleh”. Ada juga yang menghubung-hubungkan nama desa Banaran ini di ambil dari nama alias beliau yaitu “Banar” yang berarti Benar dan dilanjuktan dengan “Banaran” yang berarti kebenaran.

5. Makam Kuncung ( Kuburan Kuncung ) Merupakan makam yang berada di sisi timur Kelurahan Banaran. Makam Kuncung menjadi tempat pemakaman umum yang ada di Kelurahan Banaran. Ditempat ini juga menjadi makam para leluhur Kelurahan Banaran. Bahkan dalam perkembanganya di Makam Kuncung ini juga banyak ditemukan batu nisan kuno yang menurut sejarah memiliki corak kuno. Sehingga dimungkinkan di Makam Kuncung ini para pendiri Desa Banaran ada yang dimakamkan disana. Menurut cerita/ mythos yang dipercaya oleh sebagian masyarakat bahwa dahulu potongan rambut kuncung Semar pernah dikubur di kuburan tersebut.

6. Kali Rolak Rolak sendiri merupakan istilah dalam bahasa jawa yang berarti bendungan atau tempat penampungan air dengan kapasitas tidak terlalu besar. Bendungan/Dam Rolak ini tepatnya berada di RT.18 RW.07 dan RT.17 RW.06. kali Rolak mengalir hampir sepanjang tahun karena hulu dari sungai ini merupakan sumber mata air yang berada di Sekitar Kelurahan Tempurejo Kecamatan Pesantren. Keberadaan Sungai Rolak saat ini digunakan sebagai tempat untuk pengairan sawah di Wilayah Banaran dan sekitarnya.

7. Kali Parung Merupakan penyebutan sungai mengalir di sebelah selatan Kelurahan Banaran. Dalam ceritanya Dahulu banyak warga yang membuang parung atau duri buah gembili ke sungai tersebut sehingga lambat laun warga menyebut sungai ini dengan nama Kali Parung.